Alhamdulillah… Tulisan mengenai Begini seharusnya Menjadi Guru.. Ana akan lanjutkan..mudah-mudahan bisa berjalan lancar… Setelah pada tulisan yang lalu mengenai point ke-2 “ JUJUR “ Pada tulisan kali ini akan kita lanjutkan ke point selanjutnya. 3. SERASI ANTARA UCAPAN DAN PERBUATAN Allah Ta’aalaa berfirman : .”Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu [...]
Arsip untuk ‘Tulisan Bersambung’ Kategori
3. SERASI ANTARA UCAPAN DAN PERBUATAN
Diposkan dalam Begini Seharunya Menjadi Guru, Tulisan Bersambung pada 5 November 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
2. JUJUR
Diposkan dalam Begini Seharunya Menjadi Guru, Tulisan Bersambung pada 3 November 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
BEGINI SEHARUSNYA MENJADI GURU 2. JUJUR Sifat jujut adalah mahkota di atas kepala seorang pengajar. Jika sifat itu hilang darinya, ia akan kehilangan kepercayaan manusia akan ilmunya dan pengetahuan-pengetahuan yang disampaikannya kepada mereka, karena anak didik pada umumnya akan menerima setiap yang dikatakan gurunya. Maka jika para anak didik menemukan kedutaan pengajarnya sebagaian perkara, hal [...]
BAGIAN PERTAMA (KARAKTER-KARAKTER YANG MESTI DI MILIKI SEORANG PENGAJAR)
Diposkan dalam Begini Seharunya Menjadi Guru, Tulisan Bersambung pada 3 November 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
BAGIAN PERTAMA KARAKTER-KARAKTER YANG MESTI DI MILIKI SEORANG PENGAJAR 1.MENGIKHLASKAN ILMU UNTUK ALLAH Sebuah perkara agung yang dilalaikan banyak kalangan pengajar dan pendidik, yaitu membangun dan menanamkan prinsip mengikhlaskan ilmu dan amal untuk Allah. Ini merupakan perkara yang tidak dipahami banyak orang, kerena jauhnya mereka dari Manhaj ( cara Beragama ) Rabbani.DEmi Allah, berapa banyak [...]
Muqodimah
Diposkan dalam Begini Seharunya Menjadi Guru, Tulisan Bersambung pada 3 November 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Begini Seharusnya Menjadi Guru “ Sesungguhnya telah ada pada (diri ) Rasulullah itu, suri teladan yanga baik bagi mu.” ( Al-Ahzab : 21 ) ………………………………………………..,,,,……………………………………………………………………… Dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam as-Sulami, dia berkata : “…. Saya rela bapak dan ibuku sebagai tebusan beliau, saya tidak pernah sebelumnya dan tidak pula sesudahnya, orang yang lebih bagus pengajarannya [...]








